#TulisanDariJauh #2

#DariTubaba

1
Sesat Agung (kiri) dan Masjid As-Shobur (kanan) di Islamic Center Tulang Bawang Barat

Perjalanan riset arsitektur membawa saya ke Tubaba (Tulang Bawang Barat) untuk mengunjungi karya arsitektur Andra Matin di sana. Dalam merencanakan riset, saya sudah menghubungi beberapa arsitek untuk permohonan wawancara, sebagian besar bersedia, sebagian hanya bisa wawancara melalui WhatsApp, dan sebagian lagi tidak membalas sama sekali email maupun WhatsApp yang saya kirimkan. Untuk kasus yang terakhir, saya akan berusaha untuk mengunjungi karyanya dan bertanya pada orang yang terkait dengan proyek tersebut. Dalam catatan ini, saya ingin berusaha untuk berbagi hal-hal mengenai Tubaba; bagaimana cara ke sana, menginap di mana, dan bagaimana situasi kotanya. Beruntung sekali ketika mempersiapkan perjalanan ke Tubaba saya menerima banyak bantuan (terima kasih Mas Suvi!).

Baik, pertama-tama: pernahkah kamu mendengar nama tempat ini? Mungkin sedikit yang tau tentang kabupaten di Provinsi Lampung ini. Merupakan pemekaran dari Tulang Bawang, area ini baru dikukuhkan tahun 2008. Saya mencoba mencari tau melalui internet dan yang saya temukan adalah berita kriminal, kasus begal, dan tentang petani di Tulang Bawang. Ketika mengabari orang tua pun, ayah saya langsung berpesan “hati-hati begal”. Beberapa teman menyarankan untuk tidak keluar setelah jam 5 sore jika telah tiba di sana. Apa betul seburuk itu?

Saya mengawali rencana perjalanan ini dengan membuat post di Instastories dengan menanyakan bagaimana cara dari Jakarta ke Tubaba yang paling efektif dan efisien berhubung saya hanya akan menghabiskan dua hari satu malam di sana. Banyak sekali yang menyarankan naik bus ke Bandar Lampung, kemudian dilanjutkan dengan bus lain ke Tubaba. Tapi, ada dua kawan yang menyarankan untuk naik pesawat kemudian dilanjutkan dengan travel saja agar lebih cepat sampai. Mengingat saya berangkat sendiri dan tidak ingin kebingungan mencari-cari bus yang tepat, saya putuskan untuk naik pesawat saja. Saat bertanya tentang transportasi ke Tubaba, saya dikenalkan Mas Suvi—seorang kawan yang sudah berpengalaman ke sana—pada seorang temannya, Mas Andika. Melalui Mas Andika, saya mendapat info travel dan penginapan di Tubaba, beliau juga yang menghubungkan saya dengan Bapak Bupati Umar Ahmad untuk memohon ijin wawancara.

Perjalanan dimulai dengan menggunakan pesawat dari Soekarno-Hatta ke Radin Inten II. Perjalanan ini memakan waktu 50 menit (entah kenapa perjalanan sebaliknya hanya 37 menit saja—membuat saya teringat dengan sebuah cerita tentang perjalanan Indonesia-US yang hanya perlu 8 jam jika duduk di kelas bisnis ;p). Saya tiba pukul 07:55 pagi. Bandaranya tidak terlalu besar. Turun dari pesawat, tinggal berjalan kaki ke ruang kedatangan. Melewati area bagasi, sudah terlihat pintu keluarnya. Akan ada banyak taksi menunggu di depan, namun saya sudah menghubungi Ardian, seorang penyedia jasa travel dari Lampung ke sekitarnya. Ardian bercerita bahwa perjalanan ke Tubaba dulunya bisa memakan waktu 4 hingga 5 jam karena kondisi jalan dan antrean dengan truk. Namun sekarang dengan adanya tol, perjalanan ke Tubaba hanya memakan waktu 2 jam. Sepanjang jalan, saya bertanya tentang hasil bumi di daerah sana. Ardian bercerita tentang perkebunan karet, tebu, dan sawit. Dalam perjalanan itu, kami juga melewati perkebunan singkong dan nanas. Melintasi kembali berbagai macam perkebunan membuat Ardian bercerita tentang kehidupan transmigran di sana karena kakeknya sendiri dulunya adalah transmigran dari Jawa Barat. Mereka diberi area untuk bertanam dengan sistem bagi hasil. Saya baru tau dari Ardian bahwa area yang ditempati dan ditanami oleh transmigran bisa menjadi milik mereka, memungkinkan untuk dijual, dan (seperti kakek Ardian) pindah ke tempat yang diperkirakan lebih menguntungkan.

Setelah dua jam perjalanan, jam 10 pagi saya tiba di penginapan Wisma Asri Tirta Makmur milik Pak Wayan. Penginapan yang terkenal di Tubaba ada dua, Berugo Cottage yang terletak di dekat Islamic Center dan penginapan Pak Wayan. Jika Berugo bisa dipesan melalui aplikasi online, penginapan Pak Wayan saya pesan langsung dengan menelpon beliau seminggu sebelumnya.

“Halo, dengan Pak Wayan?”

“Halo, iya betul.”

“Pak, Bapak punya penginapan ya? Saya boleh memesan untuk satu malam untuk tanggal 7 ke 8 Oktober? Harga per malamnya berapa ya, Pak?”

“Bisa Mbak, tiga ratus ribu per malam.”

“Baik, Pak.”

Telepon ditutup. Lalu saya diam. Hm, tadi sepertinya belum ngasi tau nama. Haha. Saya langsung sms Pak Wayan untuk memberi tahu nama saya beserta detil tanggal menginap. Namun apa daya, ketika sampai di tujuan, Pak Wayan menyambut kedatangan saya di pintu masuk dengan wajah cemas. Ternyata akan ada rombongan lain yang menginap di sana dan kamarnya penuh. Tapi Pak Wayan dan Ibu tidak habis ide, mereka merapikan satu kamar di bangunan penginapan yang baru selesai. Saya sendiri diberi kamar yang sudah siap, mengingat mereka sudah mengiyakan ketika saya memesan kamar. Kamar saya dilengkapi dengan shower, toilet duduk berserta jet spray, AC, TV, sertaaaa… koneksi Wifi. Pertama-tama saya membongkar segala makanan yang saya bawa. Saking takutnya kesulitan menemukan rumah makan, saya membawa beberapa mie instan, roti isi, serta berbagai cemilan. Tas saya didominasi makanan daripada pakaian. Kemudian, saya menemui Pak Wayan untuk bertanya di mana saya bisa mendapatkan air panas. Pak Wayan menunjukkan dispenser terdekat, lalu tiba-tiba bertanya, “Mbak sudah makan belum?” sambil membuka tudung saji di pantri dekat dispenser, “ini sederhana aja mbak, ada tempe, gorengan, sayur ini, kalau misal mbak mau makan, nasi hangatnya ada di sini ya,” ujarnya sambil menunjukkan lokasi penanak nasi. Bye mie instan, saya langsung melahap makanan yang disajikan Pak Wayan.

dav
Suasana jalanan di depan Wisma Asri-Tirta Makmur 

Selesai makan, saya melakukan observasi lapangan di area Islamic Center ditemani dengan seorang kawan yang juga dikenalkan oleh Mas Suvi, namanya Nur Huda (terima kasih Huda! tautan film singkat karya Huda: https://youtu.be/TBoPZmREknc). Transportasi umum di Tubaba memang agak sulit. Salah satu cara untuk berkeliling adalah meminta bantuan dari penduduk setempat. Beruntung sekali, di daerah yang dikenal sebagai tempat yang keras dan banyak begal, saya malah menemukan banyak teman yang baik sekali. Pak Wayan sendiri beberapa kali menawarkan bantuan untuk mengantarkan jika saya ingin berkeliling. Bahkan seorang ibu yang baru saya kenal di penginapan juga mengajak saya agar ikut saja dengan rombongannya—padahal tujuan kedatangan kami berbeda ;p. Hanya perlu kurang dari 5 menit berkendara dari penginapan Pak Wayan ke Islamic Center di Tubaba. Masjid tanpa kubah As Shobur sudah terlihat dari kejauhan, menjulang di atas kolam air yang luas. Kulit bangunan Masjid berupa susunan papan-papan beton ekspos. Di sisi kirinya adalah Sesat Agung (balai adat) yang kontras dengan bangunan Masjid, menggunakan bahan kayu sebagai penutup kulit luarnya. Meja lempengan beton dengan rumput dan tanaman di atasnya yang tampak seperti bonsai tersebar di beberapa bagian kompleks. Di kolong meja-meja ini, beberapa orang duduk bersantai melindungi kepala dari sengatan matahari. Siang itu memang panas sekali, ditambah pantulan cahaya matahari yang menyilaukan dari kolam air dan permukaan beton, membuat saya ingin segera berlindung. Jalan menuju Sesat Agung dihiasi oleh instalasi bambu yang tampak seperti alat penangkap ikan (bubu) raksasa yang bisa dilewati pengunjung. Menelusuri bubu raksasa akan mengantarkan pengunjung ke sebuah sisa panggung yang juga dilengkapi dengan instalasi bambu di bagian belakang kompleks. Rupanya ini adalah sisa dari acara MTQ yang berlangsung pada April dan Mei 2019. Di sisi kiri bubu ada beberapa celah untuk ke luar, namun sisi kanannya dimatikan. Melihat keseluruhan area Islamic Center, dapat sangat dirasakan campur tangan manusia dalam membentuk lanskapnya. Semuanya begitu rapih dan tertata. Area ini masih diapit oleh perkebutan karet di sekitarnya. Kontras dengan pemandangan di seberang jalan, di mana beberapa bangunan bergerombol dan berjarak dengan gerombolan bangunan lainnya. Di belakangnya tampak deretan pepohonan yang didominasi dengan pohon karet.

3
Meja-meja tanaman. Beberapa pengunjung menjadikan kolongnya tempat duduk bernaung

Saya berkeliling dan masuk ke dalam Sesat Agung dan Masjid As Shobur. Untuk naik ke Sesat Agung, kita mesti melepas alas kaki. Bangunannya dibentuk seperti rumah panggung dengan lantai dua terbuka, hanya berpagar bilah-bilah dan berlantai kayu. Udara sejuk mengalir. Di penghujung musim kemarau ini, banyak orang bersantai, duduk-duduk dan tiduran di balai adat ini menikmati hembusan angin semilir. Saya melihat sekeliling. Cukup banyak orang duduk-duduk di area taman bawah. Saya bertanya pada Huda, adakah perubahan yang terjadi setelah kompleks Islamic Center dibangun. Huda bercerita tentang semakin banyaknya orang berdatangan ke kompleks itu, membuat Tubaba lebih ramai daripada biasanya. Namun, dia juga menceritakan seorang temannya yang tahun lalu menjadi korban begal di area Islamic Center tersebut. Saya lumayan kaget, karena selama saya berkeliling di sana, begitu banyak petugas yang berjalan-jalan dan menjaga. Apalagi dengan begitu banyak pengunjung yang berkeliling, saya tidak merasa was-was sama sekali.

Kembali ke desain Sesat Agung, saya lumayan tertarik melihat penggunaan material lantai kayu di bangunan ini. Sejak kecil saya tinggal di rumah panggung yang dibangun di atas sungai. Lantai rumah saya berupa papan-papan kayu ulin. Dari sela-sela kayu ulin itu saya bisa melihat dan mendengar aliran air. Terkadang angin semilir yang sejuk masuk melalui sela kayu ulin membuat kegiatan duduk-duduk di lantai semakin nyaman. Namun, di Sesat Agung ini papan kayu disusun rapat. Tak Nampak celah di antaranya. Di bawahnya ada jeda pendek sebelum menyentuh beton yang merupakan atap dari kolong bangunan itu. Bagaimana lantai ini menghadapi cuaca hujan dan panas? Dari pertemuan saya dengan Ci Sandra, seorang ahli biologi yang bekerja dalam program CSR di Tubaba, dia bercerita bagaimana pengalaman staf di Sesat Agung selama musim hujan. Tempias menjadi musuh mereka. Melihat bangunan dengan dinding bilah kayu yang tingginya tidak sampai 150cm, tentu hal ini sudah dapat diduga. Ketika air hujan masuk—berbeda dengan lantai rumah saya di Banjarmasin yang memiliki celah sehingga air bisa menetes dan mengalir ke bawah, lantai di Sesat Agung “menampung” tempias air hujan itu. Tak tampak talang air untuk mengalirkan tempias air hujan. Akibatnya, setelah hujan deras, staf di sana harus membuka tepian lantai untuk kemudian menyedot keluar air yang tersimpan di bawahnya.

5
Lintasan menuju Masjid As Shobur dari Sesat Agung
6
Bagian dalam jembatan lintas

Dari Sesat Agung, saya berjalan melalui sebuah lintasan yang dibuat bagai jembatan yang menghubungkan antara Sesat Agung dengan Masjid As Shobur. Turun dari lintasan itu, kita akan memasuki kawasan suci dan harus melepas alas kaki. Saya mengelilingi lorong di halaman masjid, kemudian memasuki masjid. Masjid ini juga didesain terbuka, dindingnya hanya dibuat di setengah bagian atas. Dari keempat sisinya kita bisa melihat pemandangan sekitar. Pantulan cahaya dari kolam di jam 12 siang membuat saya mengernyit lama karena silau dan memutuskan untuk keluar dari masjid. Tentu ini tidak mengganggu bagi yang sedang memejamkan mata dan berdoa. Saya bisa melihat beberapa orang masih berdoa dengan khusuk di sana.

15
Beberapa orang sedang berdoa di dalam Masjid

Di luar, anak-anak SD mulai meramaikan kolam di depan Sesat Agung. Mereka memberi makan ikan sambil bermain-main di tepian kolam. “Huda, ada yang pernah kepeleset terus jatuh nggak sih di kolam ini? Nggak ada pagarnya gitu, hehe,” saya iseng bertanya pada Huda. “Kayaknya nggak ada, Kak,” kata Huda. Sepersekian detik setelah itu, seorang anak perempuan di depan kami yang sedang memberi makan ikan terpeleset, untungnya dia masih sempat membalikkan badan dan menjangkau lantai di tepian kolam itu. Celana seragam olahraganya sempat tercelup air sebagian. Saya sempat terpekik, teman-teman di sekitarnya juga tampak kaget. Setelah dia bisa berdiri dengan baik dan menemukan pijakan yang aman, anak perempuan itu tertawa-tawa dengan temannya. Saya? Masih deg-degan. Maklum dari kecil tinggal di kota seribu sungai, berita anak mati tenggelam sering sekali terdengar.

16
Tepian kolam ikan dari sisi depan Sesat Agung

Sebelum pulang, saya lihat kedua bangunan ini dari bagian depan sekali lagi. Di depan Sesat Agung ternyata ada sebuah cerukan yang membelah kolam, menciptakan sebuah jalur pejalan kaki bagai Moses Bridge di Belanda sana. Jika air kolam penuh, maka saat melalui jalur ini, kita benar-benar bagai sedang membelah air kolam. Bangunan Sesat Agung yang menekankan pada bidang horisontal dan Masjid As Shobur yang menekankan bidang vertikal tampak kontras satu sama lain. Yang satu didominasi kayu, yang lain didominasi beton. Memang menjadi ikonik, apalagi mengingat bangunan di sekitar tidak ada yang menggunakan beton ekspos.

2
Jembatan pejalan kaki yang nampak seperti Moses Bridge di Belanda

Hari semakin terik, saya putuskan untuk kembali ke penginapan dan menyiapkan bahan wawancara riset. Setibanya saya di penginapan di sore yang panas itu, mata ini langsung tertuju pada sebuah toko kelontong si sebelah penginapan Pak Wayan. Ada kulkas es krim di sana. Saat ingin bayar es krim yang saya ambil, ternyata yang punya toko juga Pak Wayan. Beliau mempersilakan saya duduk di gazebo depan tokonya sambil menceritakan sejarah hidupnya yang berpindah dari Tubaba ke Bali hingga kembali lagi ke Tubaba. Saya baru menyadari, penginapan Pak Wayan begitu luas membentuk huruf U menghadap ke jalan raya. Di tengah-tengahnya itulah ada toko kelontong, toko bahan bangunan, rumah Pak Wayan, serta sebuah stasiun pengisian bahan bakar sederhana (dengan beberapa jeriken berisi bahan bakar dan corongnya). Pak Wayan sibuk melayani semua pembeli, dia berpindah-pindah dari satu toko ke tokonya yang lain, hingga saya bertanya, “Pak, apa ini semua memang diurus sendiri?” jawabnya, “Saya ada staf, Mbak. Tapi mereka juga ada jam kerjanya Mbak, jadi ya kalau saya bisa, saya urus sendiri.” Inilah yang enak dari menginap di tempat Pak Wayan, tidak perlu bingung nyari cemilan, minuman dingin, dsb. Semua tersedia di toko Pak Wayan, haha! Yang terbaik adalah keripik singkongnya. Mengetahui Tubaba adalah daerah penghasil singkong, saya otomatis langsung mencari cemilan berbahan singkong. Keripik singkong buatan penduduk Tubaba ini sama sekali nggak berminyak (ini penting bagi yang suka ngemil sambil ngetik di laptop seperti saya ;p), ketebalannya pas, sangat renyah, dan tersedia dalam berbagai rasa. Selain keripik singkong, keripik pisang Tubaba juga enak! Pak Wayan suka menyajikan berbagai keripik dan buah untuk tamu yang berbincang-bincang di pendopo penginapannya. Keripik pisang yang beliau sajikan sungguh enak, masih terasa pisang, namun di lapisan gulanya tercium aroma nangka. Mungkin kalau belum mencoba, ini akan terdengar aneh, tapi seriusan, ini enak sekali.

 

dav
Keripik singkong produk Tubaba dengan berbagai rasa; asin, balado, dan jagung bakar

Petang itu, setelah memastikan alat perekam berfungsi dengan baik dan daftar pertanyaan wawancara sudah lengkap, saya turut serta dengan rombongan Pak Umar, Bli Gede Kresna (arsitek), Mas Shalim (arsitek), Ci Sandra (pemrograman CSR), dan ahli masak bekasem (fermentasi ikan dengan mengisi perut ikan dengan nasi yang dicampur garam) yang datang dari Desa Meranjat untuk makan malam di Berugo Cottage. Makanan di sana enak-enak, ada sate ayam dan (ini perkiraan saya karena tidak bertanya langsung) sate jeroan, ayam goreng, berbagai masakan berbahan sayuran, dan lalapan. Inilah yang saya suka dari kuliner di Tubaba, masakan sayurannya beragam dan lalapannya begitu segar. Di acara makan malam itu saya bertemu dengan beberapa pemuda dari kota Lampung, Palembang, dan Tubaba sendiri yang sedang dalam proses memajukan kotanya. Ada yang sedang berusaha mengembangkan usaha fermentasi aren, ada yang sedang belajar di bidang pengelolaan, dan juga pariwisata.

dav
Situasi pasar Daya Murni di pagi hari

Jam setengah enam keesokan paginya, saya pergi ke pasar Daya Murni yang berjarak 13km dari penginapan. Sampai di sana, saya mengamati hiruk pikuk pasar, hasil bumi yang dijual, serta bahasa-bahasa yang digunakan sehari-hari. Lumayan terkejut karena rasanya seperti sedang di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Hampir semua orang menggunakan bahasa Jawa. Tersedianya thiwul di pasar ini seperti penanda keterikatan sebagian penduduk sekitar pada akar budayanya. Pasar ini termasuk bersih. Sayuran segar tersusun rapi. Penjual ikan, daging sapi, dan ayam saling bersisian di sisi kanan pasar. Tidak tercium bau amis sama sekali. Bahkan coretan dinding di kolom-kolom pasar ini tergolong rapi, haha! Sambil menunggu teman saya menyelesaikan belanjaannya, saya menyicipi jajanan pasar di sana. Ibu-ibu penjual tahu di dekat tempat saya berdiri tiba-tiba bertanya asal saya dan apakah saya bisa berbahasa Jawa. Saya langsung menjawab pertanyaannya dengan logat Jawa Timuran (tenang, bukan logat khas Pasar Atom). Ibu itu sontak tertawa, sambil nanya, “darimana toh mbaknya ini?” bingung kali ya, wajah Cina, berbahasa Jawa, tapi bilangnya dari Kalimantan.

dav
Thiwul goreng buatan Bu Titis, enak!

Setelah dari pasar, saya dan teman-teman menyantap thiwul goreng buatan Bu Titis, seorang kenalan dari Tubaba juga. Seumur-umur baru hari itu melihat dan menyantap thiwul goreng. Perbincangan pagi itu tak berbeda jauh dengan topik sehari-hari di kampung halaman saya; tentang ketersediaan solar. Penduduk di sana rupanya juga berlomba-lomba pergi ke pom bensin agar tidak kehabisan. Menyadari sudah lebih dari setengah 8 pagi, kami segera pamit untuk kembali ke penginapan. Saya sudah menjadwalkan wawancara jam 9 pagi.

dav
Pelatihan anyaman bambu di area Uluan Noge

Sesampai di penginapan, teman-teman yang bertugas untuk menyiapkan pelatihan anyaman bambu segera melanjutkan perjalanannya ke Uluan Noge (=yang diangkat kembali, demikian artinya menurut Mas Shalim), sebuah area yang diisi dengan beberapa rumah adat Lampung. Pelatihannya dilaksanakan di salah satu rumah adat. Rombongan lain yang akan melaksanakan pelatihan pengolahan ikan juga sudah siap berangkat. Saya sendiri berangkat terakhir, diantarkan Pak Wayan untuk menemui Pak Umar. Proses wawancara dilakukan di sela pelatihan anyaman bambu. Selesai wawancara, saya kembali ke Sesat Agung bersama Pak Umar, Bli Gede, dan Ci Sandra. Di sana pelatihan pengolahan ikan berlangsung. Ahli pembuat bekasem berkumpul dan menunjukkan praktik pembuatannya. Beberapa makanan dibuat dari bahan bekasem. Pindang, sayuran, dan berbagai sambal juga disiapkan di Sesat Agung untuk kemudian menjadi santap siang bersama. Ya, rahasia makanan terjamin selama di Tubaba adalah mengetahui kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekitar. Jika beruntung, maka seperti saya, bisa merasakan masakan buatan penduduk setempat.

dav
Makan siang bersama dengan lauk olahan bekasem (fermentasi ikan) karya warga Desa Meranjat

Selesai makan siang, saya kembali mengelilingi kawasan Islamic Center sekali lagi, sebelum saya melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta melalui Bandara Radin Inten II. Jam setengah dua siang Ardian sudah siap menunggu di parkirkan Islamic Center. Saya menjadwalkan untuk berangkat jam 2 siang dari sana. Pesawat yang saya tumpangi akan berangkat jam 18:45. Teman-teman di sana menyarankan agar saya memulai perjalanan pulang jam setengah tiga saja, “Sempat kok, Yasmin, nanti kamu malah lama menunggu di bandara,” kata Bli Gede.

Hanya dua hari di Tubaba, saya sudah menyaksikan banyak kegiatan masyarakat dan bertemu dengan penggerak-penggerak muda. Di sana saya juga belajar sedikit cara membuat minuman fermentasi nenas dari Ci Sandra (akan segera dicoba, semoga berhasil!). Hal yang saya kagumi adalah usaha untuk memberdayakan warga dan membuat jejaring di antara mereka. Masyarakat diberi pelatihan gratis untuk membuat wadah dari bambu, yang dapat dijadikan kemasan untuk produk-produk dari Tubaba, dan pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, ibu-ibu dan bapak-bapak yang ahli memasak dan membuat makanan khas Tubaba dibuatkan acara untuk membagi keterampilan yang mereka miliki serta memperkenalkan produk dari desa mereka. Ketika dibagi dan diketahui banyak orang, keterampilan yang ibu-ibu dan bapak-bapak ini anggap biasa dan merupakan bagian dari keseharian mereka ternyata malah menjadi awal roda penggerak ekonomi desa. Dengan cara ini, saya bisa melihat keterampilan membuat bekasem ini bisa terjaga dan tidak hilang begitu saja. Tidak dianggap terbelakang maupun tertinggal dari makanan cepat saji yang seringkali merambah dan mendominasi wilayah perkotaan. Saya juga bertemu dengan Juanda, seorang pemuda dari desa Gunung Katun yang berusaha untuk menggali kerajinan pembuatan minuman fermentasi aren dari desanya setelah mengikuti workshop dari Bli Gede dan Shalim. Juanda mendata lokasi kebun aren di desanya serta bertanya pada orang-orang tua di desa tentang pengalaman mereka menikmati minuman dari bahan aren. Dia bercerita tentang rencananya memberdayakan warga desanya dalam memproduksi minuman fermentasi aren serta menjadi pengumpul agar warga dapat mengembangkan potensinya tanpa perlu khawatir memikirkan pembeli produk mereka, juga beberapa rencana pemerintah untuk pembangunan akses jalan ke desanya. Mendengarkan cerita-cerita dari Tubaba ini membuat saya bersemangat sekaligus was-was. Saya yakin kreativitas dan keramahan warga di Tubaba akan selalu membuat orang ingin kembali ke sana. Yang saya takutkan adalah rencana-rencana pembangunan jalan ke desa-desa, yang biasanya diikuti pengembangan berbagai infrastruktur. Semoga pembangunan ini benar-benar memikirkan kehidupan penduduk desanya, bukan malah “menghilangkan” keberadaan si desa atau memarginalkan penduduknya.

 

Penginapan:

Penginapan Wisma Asri – Tirta Makmur

Simpang Siregar, Tiuh Tirta Makmur, Tulang Bawang Tengah, Kab. Tulang Bawang Barat, Lampung 34693

(0726) 7575042

Travel:

Ardian – 082179860457

#TulisanDariJauh #1

Ponsel tipis meluncur dari saku depan baju saya ketika sedang membungkuk. Sudutnya menghantam ubin hitam lantai swalayan tempat saya sedang berbelanja. Terpekik, lekas-lekas saya angkat ponsel itu. Permukaan layarnya sudah dipenuhi guratan. Retak parah hingga tak bereaksi ketika disentuh. Sempat mengumpat, tapi apa boleh buat. Saya selipkan ponsel ke saku celana sambil tetap menyelesaikan belanja bulanan.

Sepanjang jalan pulang, saya masih mencoba-coba, berharap retak bak jaring laba-laba itu tidak separah kelihatannya. Percuma. Ponsel saya benar-benar tak bekerja. Pun tak lama baterainya habis. Saya memilih untuk melanjutkan jalan kaki sambil berpikir apa yang harus saya lakukan; membeli baru atau memperbaiki ponsel ini. Namun, jeda menjadi manusia ‘tanpa’ ponsel ini membuat saya merasakan kemewahan.

Sebelum ponsel itu rusak, tiap lima menit saya selalu memeriksanya. Adakah notifikasi yang masuk? Apa ada perubahan jadwal kuliah? Ada tugas apa lagi dan kapan harus dikumpulkan? Ada berita baru apa di Instagram, Twitter, Facebook, atau Path? Ponsel ini, bagi saya, membebaskan sekaligus memenjarakan. Saya bisa berkomunikasi dengan mudah: menghubungi teman, saudara, maupun kolega di mana pun kapan pun selama ada koneksi internet. Membaca berita yang sesuai dengan minat saya. Belajar berkerajinan tangan, memasak, hingga membuat video stop motion hanya dengan menonton pengarahan di Youtube. Tapi di sisi lain, saya dikejar notifikasi, dikejar berita-berita yang saya minati, hingga iklan-iklan yang selalu muncul setelah benda terkait saya cari di Google. Seperti tahanan dalam penjara Panopticon-nya Jeremy Bentham, ada mata tak terlihat yang terus mengikuti langkah saya.

Absennya ponsel membuat saya memperhatikan sekitar. Hal-hal kecil yang sering saya abaikan ketika jalan kaki menjadi menarik. Pemain musik di jalan-jalan, anak-anak yang bermain balon sabun, hingga kakek nenek  yang duduk berbincang di kursi taman. Tidak ada ponsel di genggaman mereka. Beberapa membaca koran – bukan digital, hal yang sudah lama tidak saya lakukan. Membaca berita lewat layar ponsel seringkali melelahkan bagi saya. Begitu banyak berita hoaks yang membuat kegiatan membaca artikel online menjadi sebuah investigasi panjang dan berantai. Di sudut jalan lainnya, saya berpapasan dengan beberapa pejalan kaki. Earphone menancap di telinga mereka, menciptakan gelembung dunia mereka sendiri. Sebagian mendengarkan musik. Sisanya berbincang dengan orang di ujung telepon yang lain. Earphone bagai perisai dengan dunia sekitar, menjadi penanda sedang tak bisa/ingin diajak bicara.

 

IMG_20160305_153736
*Difoto oleh Lavinia Elysia, thanks Nia! 😀

 

Hening tanpa notifikasi, saya memilih duduk sebentar di tepi jalan. Belanjaan bulanan saya letakkan di samping kaki. Saya keluarkan buku sketsa kecil dan mulai merekam apa yang saya lihat melalui goresan pulpen. Beberapa orang berhenti dan mengajak berbincang. Anak-anak yang tadinya bermain, ikut mendekat. Inilah kemewahan itu. Untuk berada di satu tempat dan benar-benar berada di sana. Pikiran saya tidak melayang ke foto-foto yang ditampilkan di media sosial, tidak pula pada kegiatan balas membalas pesan instan. Ketika menggambar, saya memperhatikan sekeliling hingga ke detail terkecil. Pepohonan, warna-warna spanduk, jendela-jendela rumah, dan toko di pinggir jalan. Pemandangan yang biasa dilihat sehari-hari, menjadi terasa baru. Seperti berkenalan lagi dengan lingkungan lama.

 

Hari mulai gelap, jalanan berangsur sepi. Saya memutuskan untuk pulang. Langkah kaki membawa saya ke hadapan pintu rumah. Tujuh belas tahun lalu, Minggu sore saya akan diramaikan oleh bunyi bel rumah. Ketika membuka pintu, saya akan menemukan beberapa teman SD duduk di atas sepeda mereka. Tak salah lagi, pasti menanyakan tugas sekolah yang dikumpulkan Senin. Meski pada akhirnya akan ditutup dengan perbincangan tentang kelereng, gasing, atau mainan terbaru yang patut dicermati – karena sulit merayu ibu untuk membeli – di warung depan sekolah kami. Saat itu, berkomunikasi lewat telepon adalah kemewahan. “Tak boleh lama-lama, mahal bayarnya!” begitu pesan orang rumah. Dan kini, saya ‘agak’ merindukan masa itu. Ketika menelepon di atas jam 8 malam adalah tabu, tak sopan, dan mengganggu. Kartu ucapan selamat masih dikirim lewat pos seminggu sebelum hari-hari besar dan mengetahui alamat lengkap rumah teman menjadi kebutuhan (biasanya berawal dari kegiatan menulis biodata di buku diary teman). Janji temu dibuat jauh-jauh hari dan pembatalan di detik terakhir adalah peristiwa langka.

 

Seminggu kemudian. Minggu malam jam 11:30 ponsel saya berbunyi. Layarnya menyala menampilkan notifikasi. Ada email. Saya tekan layar si ponsel baru, hanya untuk mendapati revisi tugas yang harus dikumpulkan besok siang. Revisi yang seharusnya saya terima berhari-hari sebelumnya. Ah, demikianlah kutukan memiliki ponsel yang bekerja, apa iya saya manusia merdeka? Jangan-jangan saya ini tahanan ponsel saya sendiri. Seorang kawan sudah sejak lama memutuskan untuk mematikan ponsel di akhir pekan. “Untuk menenangkan pikiran,” ujarnya. Di hari tenang itu, dia akan menjelajah sudut kota yang jarang ia datangi. Terkadang menyeberang ke kota lain. Saya sendiri skeptis saat itu. Bukannya bagaimanapun seseorang perlu mengecek ponselnya jika ada pekerjaan mendadak atau kabar penting? Apalagi di era digital seperti sekarang. Tapi malam itu saya berpikir mungkin sudah saatnya saya menggenggam kembali kemerdekaan saya dengan memilih untuk juga berakhir pekan tanpa ponsel. Dan deklarasi sepertinya diperlukan agar saya mendapat kedaulatan: Sabtu dan Minggu harus merdeka dari email revisi tugas yang tak sopan!

 

#sketsaresep: Tahu. Cabe. Garam

Unggahan kali ini terinspirasi dari kak Nitchii yang menceritakan proses membuat sketsa resep dalam bentuk postcard. 

Untuk #sketsaresep tahu cabe garam, urutan bahan yang dimasukkan dapat dilihat dari seberapa dekat dia dengan si wajan. Bahan terdekat adalah yang mula-mula dimasukkan. Yah, ini sih masih sketsa coba-coba. Pertanyaan, saran, dan kritik diterima untuk perbaikan di sketsa berikutnya. Selamat memasak!

dav

Niels Hoebers: Animate the Inanimate

dav
Hoebers’ working space

“You always want to give them a name so you can kind of bond with them,” says Niels Hoebers, an animator and designer who runs a stop-motion studio in Eindhoven, while putting Walter, one of his handmade puppets, back on his desk. There, Walter, who wears ivory sweater and black trousers sewn by Hoebers’ mother, sits on a mini chair next to Hoebers’ computers. During the creation of ‘Walter, A Dialogue with the Imagination’, Hoebers had to think and act like Walter. “I think Walter is quite an alter ego of mine,” says Hoebers. In the animation, Walter-the-puppet comes to realize that he is controlled by his animator. Toward the end of the movie, however, Walter begins to move by himself. This animation won the Best Stop-Motion up to 10 minutes category in the 2012 International Stop-Motion Festival of Brazil. “Creating Walter has been an important part of my life,” says Hoebers, “It was a huge shift in my career path, from being a designer to become an animator.”
This year, Hoebers collaborates with Maarten Baas, a Dutch product designer who is also the ambassador of the Dutch Design Week 2016, to create a stop motion animation of the making of CLAY, Baas’ furniture series that celebrates its 10 years in the industry. Instead of framing the story in 2016, Hoebers chooses to make a twist and set it in 2056 to celebrate the 50 years of CLAY. He shows the animation of 80-ish-year-old Baas-the-puppet’s daily life in his studio: awakes, drinks a cup of coffee, throws a chunk of clay to a spin wheel to randomly decide which product he will make next and pulls a lever to send his finish product down to the showroom. He gets the inspiration from Marten’s Grandfather Clock film performance, in which a person is stuck inside a clock and his only purpose is to make the clock ticks in real time. But where does his dexterity in creating stop-motion animation come from?
Hoebers grew up in Horst, a village in the southeastern part of the Netherlands. His late grandmother was a Christmas puppet-maker and he was always fascinated by the use of puppets in stop-motion movies, especially those by Jim Henson, such as The Muppet Movie (1979), Dark Crystal (1982) and Labyrinth (1986). In his secondary education, he chose to study electricity and then became an electrician for 3 years after he graduated. In 2004, 23-year-old Hoebers found a great interest in lamp design which led his way to study at Design Academy. While studying Man and Leisure at the Design Academy, Hoebers did an internship at Se-ma-for, an animation studio in Poland, where he found his passion for making animations. He made a stop motion video and animation cabinet for his graduation projects in 2010. This was the point when Walter was created. A puppet with an existential crisis that became the main cast of Niels’ 5-minute stop motion animation.
Ten years after he graduated, Hoebers owns a 110m2 studio. The two-story stop-motion studio is like a basement laboratory where he makes his puppet ‘alive’. It contains his office, shooting station, and a workshop, where he makes miniatures and props for the animations. He covers all of the windows in his shooting station with black materials to block direct sunlight. Several tripods, motion control sliders, and sets from his previous works are arranged on three sides of walls of this station. And in front of the other side is a huge table that supports the set of Baas’ studio. His former profession as an electrician come in handy to create small electrical appliances inside the mini-studio. Besides that, he put his signature by making David Bowie, his inspirational figure, on the cover of a mini-magazine as a decoration inside the maquette.
Hoebers has also worked with Dirk van der Kooij, a Dutch furniture designer who made a 3D printer with a robotic arm. For this collaboration project, he made a miniature of the 3D printer. The 15cm model looks like a crane arm attaches to a small tube, which is apparently the nozzle of whipped cream can. “I sometimes prefer to do an animation of machines like this because it leaves a little bit more to the imagination than a real puppet,” he says. Through his stop-motion videos, he brings to life the inanimate objects. The 3D printer seems like it has feelings; a sadness when it couldn’t print a chair faster, and even a confusion when it fails to print a chair leg.
Though Hoebers is fond of doing collaborations, he still does several commissioned works to earn living. Recently, he joined a talent search to win a whole year financial support from the Playground Festival, a motion graphic and animation festival in Breda and Amsterdam. He dreams of making his own stop-motion project and a stop-motion lab for students, “Animation schools in Holland don’t support stop motion so much.” The limitation in equipment and puppet-making skills have become the hindrances. Even more, there are more advanced ways of making a perfect animation such as CGI (Computer-Generated Imagery). Nevertheless, Hoebers believes that stop-motion animations will last. There might be choppy frames, awkward movements of puppets or any other flaws in a stop-motion animation, but all of them signify a touch of human hands in the making process. Such imperfections are what the audiences – the imperfect human beings – can always relate.

This profile was written in 2016.

Introduction of Aric Chen

This introduction was made to be presented at the DAE panel discussion “Stretching the Museum: New Opportunities for Curating Design” in the 2017 Milan Design Week.
Aric Chen
Aric Chen

I am an Indonesian, studying in Design Curating and Writing Master’s Programme at the Design Academy Eindhoven. Once, I told my tutor, “Most of the museum history and curating books that we read, tell the stories from European perspectives, but I haven’t found enough narratives from Asia.”

Then in 2016, I read about M+, a museum for visual culture in Hong Kong, due to open in 2019.  The museum will focus on 20th and 21st-century art, design, and architecture, and moving image. So, what it is to become a lead curator of design and architecture at the M+ museum in Hong Kong – a part of the largest continent in the world and the country where the copying phenomenon plays such a defining role?

For Aric Chen, who is currently in that position, it is the time to see everything through a different lens. Instead of shunning the problematic imitating phenomenon in Asia, Chen embraces it and has acquired some counterfeits for the museum. In his latest curatorial project for the M+ pavilion, he exhibited the blueprint of Hans Tan’s Copy-Tiam Chair. This chair has been considered as the archetypal chair design for Kopitiam – local coffee shops – in Singapore. Despite the fact that it was originally designed by Michael Thonet, the German-Austrian furniture maker, in 1859. Tan has even published this blueprint to be copied for free. It showed the vulnerability of originality and contested the notion of copying in the age of open source.

The rise of the plastics industry in Hong Kong has also played a big part in its copying culture. This material has been shaped and molded to impersonate other materials. Chen has displayed various domestic objects from the 1960s through the 80s, such as crystal plates and crystal chandeliers, which are made of plastic. The endless possibilities of plastics in imitating different surfaces seem to construct the very idea of counterfeiting.

Besides this topic, Chen also examines the issue of identity through the acquisition of 75 Watt, a choreographed performance in design manufacture. The workers’ movements in the factory are not based on the shape of the objects; on the contrary, it is their movements that determine the outcomes. Staging this exhibition in Hong Kong, an hour’s train ride from the center of mass-manufacturing in the southern part of China, Chen confronted the hierarchy in the manufacturing process, in which the agency of human and objects has been blurred.

Looking through objects, Aric Chen invites us to see things afresh, from a distinctly Asian point of view. His choice to put Asia in the center stage of M+ – as the eyes that witness rather than looking through the Western World’s perspectives – can be seen his unveiling a broader and richer narrative on the part of design museums.

Please welcome, Aric Chen!

Biography of Pierre Bastien

ys1

Pierre Bastien, the French composer and multi-instrumentalist, can be seen as contemporary Victor Frankenstein in the musical landscape. Instead of assembling parts of corpses, Bastien brings together everyday objects, musical instruments, and model construction kits to create musical contraptions. The movement of flywheel, gears and other Meccano elements become the driving force of his musical automatons.

Bastien did his doctoral dissertation on the French-writer Raymound Roussel’s works. In one of Roussel’s novel: Impressions of Africa, he read about a fictional musical instrument, which is called a ‘thermodynamic orchestra’. Several components of the orchestra are made of a ‘new metal’ called bexium. The temperature sensitivity of the new metal propels the instrument to play music on its own. This was what inspired Bastien to create musical contraptions.

In 1986, Bastien formed his own one-man-orchestra entitled Mecanium. In this ensemble, rather than asking people to play the instruments, he brought the orchestra alive by connecting each of them to Meccano and electronic parts. Teeth of gears meshed with the bronze bars of a Javanese saron produced a series of clangs. Rotating wheels attached to a bow that drew across the strings of a vertically-standing Chinese lute to create rattles. A beater swung up and down, prodded by two rotating plates, to create thudding on the surface of a Moroccan bendir.

Until 2017, Bastien has released at least 20 albums and several compilations. His latest album entitled Blue as an Orange was launched in 2015. If Mecanium is inspired by Roussel’s novel, the name of this album is inspired by Paul Eluard’s poem, The Earth is Blue like an Orange. The first track, Tin Unit, reminds me of the daily sounds I hear in my kitchen. The scratches, pops and clangs of a can opener, the tick-tock of my clock, and the low buzzes from the streets. All are wrapped with the melodies of a wind instrument. Each sound evokes different emotions, from the peaceful repetitive knocks to the sad slow tempo toots of brass.

With his works, Bastien has crafted objects that can be enjoyed both aurally and visually. In his stage performances, every part of his musical contraptions is exposed. He shows how the sounds are made without human operators. However, Bastien also realizes that using machines does not always lead to perfection. He does not aim to beautify the sounds nor the appearance of the contraptions. Each and every little glitch his machines produce resembles the imperfection of human hands, which makes them more alive.

All in all, Bastien’s love of literature has inspired him to build many of his works. Listening to his music is like reading a series of onomatopoeia poems. Imagine the “..husha-husha-hush…” in Carl Sandburg’s poem Jazz Fantasia or “The jingling and the tinkling…” of Edgar Allan Poe’s The Bell. And his dexterity in combining things to play music has challenged the common way of creating melodies. He gives a voice to everyday objects. Now, please welcome, Pierre Bastien!

 

This biography was made to introduce Pierre Bastien at the Objects as Actors Symposium (January 25th, 2017), Het Nieuwe Instituut, Rotterdam.

The Revival of Instant Camera

img-20160928-wa0008-e1503827946582.jpeg
The present my sisters gave me before I went to Eindhoven

As my index finger clicked on the shutter button, the instant camera made a whirring sound. A credit card-sized photo was then ejected from the exit slot and a moment later the image on it started to develop. I pulled it out. If it were an instant camera from a bygone age, I would have flapped the print back and forth afterward to dry the ink. However, since mine was a contemporary one, the photograph in my palm emerged fully developed. I looked at the counter on the back of my camera: three shots left.

Seemingly forgotten and replaced by digital technology, the instant camera has found its way back to the world of photography. Several brands of instant cameras such as Fuji Instax, Kodak, and the legendary Polaroid have regained their popularity. For people acquainted with the instant camera in earlier times, the particular shutter sound, the short wait until the image appears and the lack of control over the results can bring a nostalgic feeling absent in a digital camera. These feelings arguably instigated the resurgence of instant cameras.

On the other hand, most people from generation Z, who have been exposed to the digital world since birth, might find the experience of using an instant camera utterly new. To begin with, the absence of an LCD screen indicates that nothing can be seen before the photo is printed and nothing can be edited. This limitation is rather novel for those who were born in the mid-2000s. There are chances that you will get a photo which is either too dark or too bright, in which your eyes are closed or your hair covers half of your face. Yet, the instant camera is popular again because the imperfections it captures are somehow so human. With digital cameras, you can take hundreds of photos, save the good ones, delete the rest and re-touch your photos until they look perfect. With the instant camera, taking a picture must be done more carefully and with intention. Even more, an instant film cartridge can only provide 8 to a maximum of 20 prints depends on the brand. Once the shutter button is pressed, the instant photo emerges and that is it—there is no way to modify it.

The tangibility of the photos taken makes instant photography distinctive. Nevertheless, some people end up converting the photos into digital format to be posted on the internet. Online communities, such as Polanoid.net, instantfilmsociety.com, and lomography.com, are established as gathering places for instant camera users. They share photos and have discussions about techniques used in capturing the moment.  The digital world complements the return of instant photography in contemporary society. Additionally, instant camera brands such as Polaroid have created a product that provides an option for the user to save the photo digitally to make it relevant with today’s technology.

It has been a month since I first used my Fuji Instax. I have taken only 7 photos. For me, to see the instant photos unfold right before my eyes is the thing that makes instant camera irreplaceable when almost everything has gone digital.

Credit to DCW co-head for the editing suggestions.